Beranda > Tazkiyatun Nafs > Bersyukurlah… Bersyukurlah… Bersyukurlah…

Bersyukurlah… Bersyukurlah… Bersyukurlah…

Dahulu ada seorang yang miskin mengadukan kemiskinannya kepada seorang ahli ilmu. Dia menampakkan kegundahan hati atas keadaannya tersebut. Mendengar dan melihat kondisi orang miskin tadi, sang alim menasehatinya dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan.”Sukakah kamu jika matamu menjadi buta dan engkau mendapatkan sepuluh ribu dirham sebagai gantinya?” tanya sang alim.”Jelas saja tidak suka,” jawab si miskin.”Kalau begitu, sukakah jika engkau menjadi bisu dan engkau mendapatkan sepuluh ribu dirham?” “Tentu saja tidak suka,”jawabnya. “Sukakah jika engkau menjadi gila dan engkau mendapatkan sepuluh ribu dirham?” “Tentu saja aku tidak suka,”jawab si miskin kesekian kalinya. Mendengar itu semua sang alim pun melontarkan nasihat emasnya.”Apakah engkau tidak merasa malu, mengeluh kepada Alloh, padahal engkau memiliki barang yang nilainya sama dengan lima puluh ribu dirham?” nasihatnya. Si miskin pun tersadar atas sikap ketidaksyukurannya.

Apa yang menjadi kegundahan si miskin tadi, seringkali mewakili kegundahan yang kita rasakan. Kekurangan harta, sulitnya mencari nafkah, atau musibah yang bertubi menerpa, menjadikan mata kita tertutup dengan besarnya karunia yang dilimpahkan Allah pada diri kita. Jawaban si alim pada si miskin tadi, selayaknya menjadi pelipur lara bagi kita yang bernasib seperti si miskin. Nikmat Alloh yang dilimpahkan kepada kita sangat banyak, namun tak jarang kita menengok pada orang yang lebih dari kita. Apa akibatnya? Kita pun jadi sulit bersyukur. Padahal sepantasnya, dalam masalah keduniaan, kita seharusnya mengikuti petunjuk Nabi,”Lihatlah orang yang dibawah kalian, dan janganlah melihat orang yang lebih tinggi dari kalian. Karena yang demikian itu lebih mendorong kalian untuk tidak meremehkan nikmat Alloh yang diberikan kepada kalian (Riwayat Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa suatu ketika Ibnu Samak, seorang ulama, menemui Khalifah Harun ar Rasyid, lalu memberinya nasihat, hingga membuat khalifah tersebut menangis. Lalu Ar Rasyid meminta air minum kepada pembantunya. Ibnu samak bertanya,”Wahai Amirul Mukminin, andaikata minuman anda itu tidak bisa diminum kecuali harus ditukar dengan dunia dan seisinya, apakah Anda menebusnya?” “Tentu”, jawab Ar Rasyid. Ibnu Samak berkata,”Kalau begitu minumlah dengan penuh kenikmatan, semoga Alloh memberikan keberkahan kepada Anda”.

Akuilah, kita sering menganggap hal-hal yang kecil dan remeh bukan nikmat. Apa sih nikmatnya seteguk air ketika ada bergalon-galon air di rumah kita? Apa sih nikmatnya sesuap nasi ketika beragam jenis makanan ada dihadapan kita? Ya, kita menganggap bahwa yang sedikit itu tidak ada artinya. Padahal hakikatnya berbeda dengan yang kita bayangkan.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: