Beranda > Psikoreligi > Hubungan Islami Antara Tenaga Kesehatan dengan Klien

Hubungan Islami Antara Tenaga Kesehatan dengan Klien

Menjalin hubungan yang baik antara tenaga kesehatan dengan klien mutlak diperlukan dalam upaya memperlancar pelaksanaan tugas perawat (Asnindari, 2004).

Menurut King (dikutip oleh Varcarolis, 1990) ada empat tindakan yang harus diambil dalam hubungan terapetik perawat-klien:

  1. Tindakan diawali oleh tim kesehatan
  2. Respon reaksi dari klien
  3. Interaksi
  4. Transaksi

Hubungan tenaga kesehatan dengan klien secara islami mempunyai karakter hubungan dengan konsep ketuhanan dan kemanusiaan, dimana dasar-dasar hubungan dilandasi atau disandarkan kepada Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW.

Dasar-Dasar Hubungan:

  1. Sesama muslim/mukmin adalah saudara (Q.S. Al-Hujarat:10)
  2. Tidak saling mencela satu sama lain dan tidak boleh memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk (Q.S. Al-Hujarat:11)
  3. Tidak saling berprasangka buruk, mencari kesalahan dan menggunjing orang lain (Q.S. Al-Hujarat:12)
  4. Tolong menolong dalam hal kebajikan dan jangan tolong menolong dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan (Q.S. Al-Maidah:2)
  5. Tidak saling menghina (H.R. Bukhori)
  6. “Tidak satupun dari sahabatku yang menemuiku membawa tentang sesuatu kecuali aku menghendaki seseorang tersebut keluar kepada kalian dalam kondisi saya selamat dari penyakit dada yaitu tidak punya buruk sangka, dendam atau hal-hal buruk yang lain” (Al-Hadist)

Komunikasi Terapeutik Islami:

Prinsip Komunikasi Islami:

  1. Tim kesehatan harus dapat memahami dasar-dasar hubungan dan adab-adab dalam bergaul / menjalin komunikasi
  2. Tim kesehatan berusaha untuk mengamalkan dasar-dasar hubungan tersebut
  3. Selalu muhasabah (introspeksi diri)
  4. Melayani / membantu dengan sepenuh hati dan hanya berharap Ridho-Nya (Al-Hadist)
  5. Tim kesehatan harus bias memahami dan menghargai tingkat pemahaman dan perilaku beragama klien
  6. Tim kesehatan harus mampu menguasai perasaan sendiri (mengontrol emosi) dan menahan amarah (Q.S. Ali Imron:134)
  7. Tim kesehatan harus konsisten terhadap waktu dan selalu menepati janji (Al-Hadits)
  8. Tim kesehatan harus jujur, terbuka dan tanggung jawab

Adab Dalam Komunikasi Islami:

  1. Salam islami, berjabat tangan dan kalau perlu saling berpelukan (Al-Hadits)
  2. Panggil klien dengan panggilan yang baik (Al-Qur’an)
  3. Beri perhatian dan dengarkan terhadap apa yang dikomunikasikan klien baik secara verbal atau nonverbal
  4. Mengenalkan diri jika belum kenal
  5. Validasi suasana hati klien
  6. Memulai kegiatan dengan “basmalah” dan mengakhirinya dengan “alhamdulillah”
  7. Hindari pertanyaan yang kiranya sulit dijawab klien
  8. Tidak banyak menilai buruk dan menggunjing orang lain (Al-Qur’an)
  9. Beri nasehat jika perlu dengan cara yang baik (Al-Qur’an)
  10. Pujilah klien pada saat yang tepat dan jangan terlalu banyak memuji karena pujianyang banyak hanya milik Allah (Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah)
  11. Jangan berbohong dan terlalu banyak bersenda gurau (Al-Hadits)
  12. Saling menjaga rahasia
  13. Selalu mencari kelebihan-kelebihan klien. Ibnu Mubarak berkata:”Orang mukmin itu selalu mencari kelebihan saudaranya, sedangkan orang munafik selalu mencari setiap kekurangan saudaranya”
  14. Perlakukan klien dengan cara yang disukai klien dari hal-hal yang baik
  15. Jika tidak bisa berkata yang baik maka diamlah (Al-Hadits)
  16. Ucapkanlah terimaksih dan saling mendoakan (Al-Hadits)
  17. Menjaga keikhlasan, kesetiaan dan ketawadzuan (Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah)
  18. Tidak membebaninya dengan hal-hal yang sulit
  19. Berjiwa pemaaf dan tidak menjadikan satu lebih mulia dengan yang lainnya (Minhajul qasidin, Ibnu Qudamah)
  20. Buatlah kesepakatan / kontrak agar bias menindak lanjuti dan saling nasehat menasehati.
  21. Tim kesehatan harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman (Q. S. Al-Quraisy:4)

Fase Interaksi Terapeutik Islami

Tahap Pre Interaksi:

  1. Mengumpulkan data tentang pasien
  2. Mengeksplorasi perasaan
  3. Membuat rencana pertemuan dengan klien (kegiatan, waktu, tempat)

Tahap Orientasi:Memberikan salam dan senyum islami, berjabat tangan

  1. Melakukan validasi (kognitif, psikomotor, afektif)
  2. Memperkenalkan diri dengan sikap tawadzu’
  3. Memanggil klien dengan panggilan yang baik dan disukai klien
  4. Menjelaskan tanggungjawab tim kesehatan dan klien
  5. Menjelaskan peran tim kesehatan dan klien
  6. Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan
  7. Menjelaskan tujuan
  8. Menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melekukan kegiatan

Tahap Kerja:

  1. Memberi kesempatan kepada klien untuk bertanya
  2. Menanyakan keluhan klien yang mungkin berkaitan dengan kelancaran pelaksanaaan kegiatan dan dengarkan keluhan klien dengan penuh perhatian
  3. Memulai kegiatan dengan “basmalah”
  4. Melakukan kegiatan sesuai dengan rencana

Tahap Terminasi:

  1. Menyimpulkan hasil kegiatan ; evaluasi proses dan hasil
  2. Memberikan reinforcement positif
  3. Merencanakan tindaklanjutn dengan klien
  4. Merencakan kontrak untuk pertemuan selanjutnya (waktu, tempat, topic)
  5. Mengakhirinya dengan “alhamdulillah”
  6. Menjelaskan kerahasiaan dan saling menjaga rahasia

(Ditulis Oleh: Akhsan Abadi, S.Kep)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: