Beranda > Psikoreligi > Konsep Keimanan dan Pendekatan Spiritual dalam Psikiatri

Konsep Keimanan dan Pendekatan Spiritual dalam Psikiatri

Konsep keimanan dalam psikiatri

Pada awal perkembangan ilmu psikiatri penjelasan tentang apa itu jiwa atau psyche sangat sulit, apakah itu sama dengan “roh, sukma, bathin atau rokhani”. Secara objektif jiwa hanya bisa dilihat dari perilaku. Perilaku yang mencerminkan keberadaan jiwa merupakan ekspresi kognitif, afektif dan psikomotor dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lain (teori perilaku atau behaviorism).

Pandangan lain, jiwa dianggap dan diperhitungkan sebagai motif-motif tak sadar, terutama yang berkaitan dengan seks. Kemudian psikosis (skizofrenia) diakibatkan  oleh defek pada fungsi ego, ketidakmampuan mengendalikan dorongan dalam (inner drivers)’ narsistik awal, ketidakmampuan beradaptasi dengan dunia luar yang menghasilkan dunia rekaan seperi waham dan halusinasi. Inilah angkatan kedua “psikoanalisis” Freud dan pengikut-pengikutnya.

Pada 20 tahun berikutnya teori psikoanalisis mulai tergeser oleh penjelasan neurokimiawi dimana psikosis (skizofrenia) harus diberikan obat sepanjang hayat karena ketidakseimbangan neurotransmitter di celah sinaptik otak, namun jiwa tetap tak tersentuh. Pada tahun yang sama beberapa survey membuktikan bahwa 95% pasien memiliki keyakinan yang kuat terhadap Tuhan. Suatu pengalaman spiritual. kemudian jiwa mulai lebih didekati sebagai eksistensi manusia, harapan dan penderitaan, makna hidup, makna Tuhan, “humanis eksistensial”.

Pengetahuan tentang psikodinamika terhadap kepercayaan seseorang dan perkembangan perspektif terhadap keimanan menyimpulkan bahwa keimanan sangat berperan sebagai motivator dalam mengatasi berbagai macam krisis (Born house, R.T. Fowler, Jw., Fallon, B.A., 1993). Gangguan kejiwaan yang di alami seseorang hendaknya ditinjau dari aspek keimanan yang bersangkutan (Karaagae, I.A. 1989). Mulailah terapi spiritual dipertimbangkan sebagai upaya terapi selain terapi-terapi lain pada gangguan psikotik dan non psikotik.

Pendekatan spiritual dalam psikiatri

Istilah “spirit” dalam kamus bahasa Indonesia berarti “roh”, “jiwa”, “semangat”, “arwah”, “jin” maupun “hantu”. Namun sifat secara umum mendifinisikan spiritual sebagai “bathin”, “rokhani”, “bantuan bathin” dan “keagamaan”.

Lebih luas konsep spiritual disebut sebagai spiritualitas yaitu keyakinan dalam hubungannya dengan yang maha kuasa dan Maha pencipta, sebagai contoh seseorang yang percaya kepada Allah sebagai pencipta atau Maha Kuasa (Achir Yani, 2009). Lebih lanjut Mickley (cit. Achir Yani, 2009) menguraikan spiritualitas sebagai suatu multi dimensi yaitu dimensi eksistensial dan dimensi agama. Dimensi eksistensial berfokus pada tujuan dan arti kehidupan, sedangkan dimensi agama lebih berfokus kepada hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Stoll (cit. Achir Yani, 2009) menguraikan bahwa spiritual merupakan dua dimensi, yaitu dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Dimensi vertikal adalah hubungan dengan Tuhan atau Yang Maha Tinggi yang menuntun kehidupan seseorang, sedang dimensi horizontal berkaitan dengan hubungan seseorang dengan diri-sendiri, dengan orang lain dan dengan lingkungannya. Terdapat hubungan terus-menerus antara dua dimensi tersebut.

Pada tahun 1984 WHO memasukkan dimensi spiritual keagamaan sama pentingnya dengan dimensi fisik, psikologis dan psikososial. Seiring dengan itu, terapi terapi yang dilakukan pun mulai menggunakan dimensi spiritual keagamaan, terapi yang demikian disebut dengan terapi holistik artinya terapi yang melibatkan fisik, psikologis, psikososial dan spiritual (Ariyanto, 2006). The American Psychiatric Association (APA) mengadopsi gabungan dari empat dimensi di atas dengan istilah paradigma pendekatan biopsikososispiritual (Hawari, 2002). Lokakarya yang diselenggarakan APA pada tahun 1993 dengan judul Religion and Psychiatry Model of Partnership memberikan suatu anjuran untuk menambahkan terapi keagamaan disamping terapi psikis dan medis (Hawari, 2002).

Larson (1992) dan beberapa pakar lainnya dalam berbagai penelitian yang berjudul Religious Commitment and Health, menyimpulkan bahwa di dalam memandu kesehatan manusia yang serba kompleks ini dengan segala keterkaitannya, hendaknya komitmen agama sebagai suatu kekuatan (spiritual power) jangan diabaikan begitu saja. Agama dapat berperan sebagai pelindung lebih dari pada sebagai penyebab masalah.

Pentingnya agama sebagai kelengkapan pemeriksaan psikiatrik dapat dilihat dalam Textbook of psychiatry yang berjudul Synopsis of Psichiatry, Behavioral Sciences and Clinical Psychiatry karangan Kaplan dan Sadock (1991). Di dalam. buku tersebut disebutkan bahwa dalam wawancara psikiatri dokter (psikiater) hendaknya dapat menggali latar belakang kehidupan beragama dari pasien dan kedua orangtuanya, serta secara rinci mengeksplorasi sejauh mana mereka mengamalkan ajaran agama, yang dianutnya. Bagaimanakah sikap keluarga terhadap agama, taat atau longgar (strict or permissive); adakah konflik di antara kedua orangtuanya dalam. memberikan pendidikan agama kepada anak‑anaknya.

Psikiater hendaknya dapat menelusuri riwayat kehidupan beragama pasiennya, sejak masa kanak‑kanak hingga dewasa; sejauh mana. pasien terikat dengan ajaran agamanya, sejauh mana kuatnya, dan sejauh mana mempengaruhi kehidupan pasien, pendapat pasien berdasarkan keyakinan agamanya terhadap terapi psikiatrik dan medik lainnya, serta bagaimanakah pandangan agamanaya terhadap bunuh diri dan sebagainya, (Hawari, 2002).

Di ASEAN pentingnya terapi agama dalam psikoterapi mulai diperhatikan pada tahun 1995. Dalam Konggres ke-lima Kedokteran Jiwa / Kesehatan Jiwa se-ASEAN di Bandung pada bulan Januari 1995, topik Psikiatri dan Agama merupakan salah satu topik bahasan dengan menampilkan tiga juduI makalah: New Concept of Holistic Approach in Indonesian Psychiatry and Mental Health; New Approach in the treatment of Depression; dan Religion issues in Psychiatric Practice (Hawari, 1997).

Di Indonesia beberapa konselor dan terapis telah memakai agama sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam konsultasi dan terapi psikisnya. Misalnya Prof. DR. Zakiah Daradjat dan Prof. DR. dr. Dadang Hawari. Keduanya juga menerbitkan beberapa buku yang berkaitan dengan konseling dan psikoterapi agama. Prof DR Zakiah Daradjat antara lain menerbitkan beberapa buku yang berjudul: Peranan Agama dalam Kesehatan Mental (1973), Islam dan Kesehatan Mental (1983), Do’a Menunjang Semangat Hidup (1992), Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental (1993)., Prof DR. dr. Dadang Hawari menerbitkan beberapa. Buku antara lain: Konsepsi Islam Memerangi AIDS dan NAZA (1996); Al Qur’an, Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa (1997); Doa dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis (1997); Gerakan Nasional Anti Mo Limo: Madat, Minum, Main, Maling, dan Madon (2000); Pendekatan Holistik pada Gangguan Jiwa Skizofreni (2001); Terapi (Detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhir (Sistem terpadu) Pasien Naza (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif Lain) Metode Prof Dr. dr. H. Dadang Hawari Psikiater (2001); Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA (Narkotika, Alkohol, dan Zat Adiktif) (2001); Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi (2002), Manajemen Stres Cemas dan Depresi (2002).

Di samping itu di beberapa pesantren, para kyai dan ustadz juga melakukan kegiatan konseling dan psikoterapi dengan menggunakan agama. Misalnya Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Pesantren Raudhatul Muttaqien Yogyakarta, PesantrenAl-Ghafur Situbondo, Pesantren An-Nawawi Bojonegoro (Rendra, 2000), PesantrenAl-Islamy Yogyakarta (Arif, 2005), dan beberapa pesantren lainnya yang tidak disebutkan di sini.

(Oleh: Akhsan Abadi, S.Kep)

  1. fauziah nasution
    18 September 2012 pukul 16:05

    trimsksh ilmunya, saya mencoba menambahkan sedikit; bahwa Dalam konsep Islam, antara fisik dan fisikhis tidak dapat dipisahkan; sedang spritualitas adalah kebutuhan dasar bagi fisikhis manusia. oleh karena ulama-ulama klasik spt Ibn Sina (Bapak Kedokteran Islam, pengarang buku Al-Qanun fi at-tibyyan) memiliki konsep yang jelas tentang an-nafs/jiwa yang bersumber dari al-Qur’an. jadi jauh sebelum WHO memperhatikan persoaln spritualitas dalam kehidupan manusia sebenarnya Islam sudah mengingatkan itu. wallahu a’lam bi ash-shawab…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: